Sholiha


:)

Selasa, 04 Desember 2012

WISATA HATI


Wisata Hati
MENEPOK
NYAMUK
Cara Mudah Kaya,
Cara Mudah Sukses.

Malu Melihat Bulan
Malu Menatap Bintang
Mampu menerima keadaan apa adanya adalah kekayaan yang sebenarnya.

“Di mana rumahmu Anti...?”
Anti bingung. Tidak siap dia menjawab pertanyaan dari Reha kawannya. Pertanyaan sederhana Reha menjadi tidak sederhana dimata Anti.
Dengan gagap Anti menjawab, “rumah saya ada di ujung jalan ini”.
Di tunukkanlah kepada Reha sebuah Rumah yang agak mewah,  yang diakuinya sebagai sebagai miliknya. Kebetulan rumah iti sedang digembok.
“Ini rumahmu Anti?” tanya Reha, sambil mengernyitkan keningnya. Anti mengangguk. “saya mau menbuatkan kamu minuman Reha. Cuma kuncinya kebetulan lagi dibawa pembantu saya ke pasar”.
Tanpa menunggu waktu jeda, Reha merogoh kantungnya dan berkata “kunci ini yang kamu maksud? Kunci ini    ada pada saya sebab rumah ini memang rumah saya...!”
Keduanya terdiam sesaat.
“kamu tidak berubah Anti. Saya sangat kecewa. Terimalah keadaan suamimu apa adanya. Supaya kamu bisa merasakan kebahagiaan.”
Rupanya rumah yang anti tunjukkan kepada Reha adalah rumah Reha sendiri.
Kehidupan anti menjadi sempit. Ia tidak  bisa melapangkan dadanya karena ia memandang sempit kehidupannya. Kebahagiaan selalu ia ukur dengan kacamata orang lain yang secara status ekonomi dan sosialnya lebih dari dia. Keributan yang sering terjadi lebih sering bermuara kepada  ketidakpuasan akan kehidupan yang ia jalani saat ini. Sungguhpun ia memiliki suami yang sayang kepadanya, dan anak-anak yang manis dan penurut.
“Anti... lihatlah diri saya...?” pinta Reha sahabatnya. “bila kamu lihat diri saya dari sisi rumah yang mewah ini, bila kamu lihat diri saya dari sisi mobil yang engkau tumpangi, niscaya saya terlihat lebih enak daari kamu, Anti. Tapi lihatlah lebih jauh lagi. Lima belas tahun saya berumah tangga, tidak satupun anak yang saya miliki. Sedang kamu, dalam usia pernikahan dibawah saya, sudah dua anak kamu punya. Lihatlah sisi ini, sisi diman kamulah yang punya kelebihan dibanding saya.”
“Dulu juga saya sama.”  Lanjut Reha. “bukanlah kita berasal dari tipe keluarga yang sama? Sama-sama miskin. Suami saya juga dulu miskin...”
Selanjutnya Reha bercerita, satu hal yang membedakan dia dengan Anti adalah dia amat jarang mengeluh. Ia menerima dulu kehidupan apa adanya. Sehingga kehidupan tetap menyenangkan, dan nyaman. Suasana yang kondusif ini menyebabkan Reha bisa  mensupport suaminya ‘tuk lebih bersemangat mencari rizki. Bahkan belakangan, ketika ada beberapa kesempatan mengais rizki, Reha pun ikut turun ke lapangan. Perjuangan sekian tahun ini kemudian berbuah, dengan buah yang dilihat oleh Anti. Dan ini pula kebiasaan orang, selalu melihat hasil orang lain, sedang perjuangan orang tersebut untuk mencapai hasil tidak pernah atau jarang dilihat.
“Sudahlah Anti, jangan malu melihat bulan, jangan malu menatap bintang, hanya karena kamu saat ini menjadi rumput...”
Dan jangan engkau tujukan pada penglihatanmu kepada yang kami beri kesenangan dengannya berbagai golongan dari mereka berupa perhiasan kehidupan dunia, supaya kami  menggguji mereka padanya. Sedang rizeki Tuhanmu lebih baik dan kekal.”(Thaha: 131)
Munajat
Selalu mengeluh. Inilah wajah hamba, Rabb. Mengapa sih hamba tidak mampu melihat indahnya mata, ketimbang harus meratapi satu dua jerawat?
Rabb, sebab tidak ada penerimaan  yang  ikhlas akan jalannya hidup dan kehidupan inilah mungkin yang menyebabkan hamba menjadi manusia-manusia yang berkhianat kepada Engkau. Tuhan. Hamba seolah tidak yakin lagi bahwa Engkaulah sebaik-baik pemberi Rizki. Lihatlah, hamba sering menempuh jalan yang bukan jalan-Mu. Hamba juga sudah jadi pemarah, yang marah dan kecewa kepada-Mu, dengan cara meratapi dan menyesali kehidupan hamba. Padahal tidak pantas hamba berlaku demikian di tangah derasnya kebaikan yang Engkau berikan.
Rabb, andaikan bukan Engkau Rabb alam ini, jauh-jauh hari Engkau sudah membungkam hamba punya mulut, Engkau sudah tutup hamba punya hati. Tapi Engkaulah Tuhan terbaik, dan satu-satunya!

Dunia Ini Indah Kalau
Kita Anggap Ia Indah
Kata orang bijak, alam ini mempunyai sistem yang bisa bekerja mewujudkan apa yang ada dalam pikiran dan dihati kita.
            Suatu hari, Luqman menemukan catatan istrinya, “Makasih Ya Allah... yang mana engkau sudah menjadikan hidup ini indah. Maka jadikanlah mata kami mampu memendang keindahan-Mu adalah keindahan, tanpa kecacatan. Meski urusan suami saya belum pada kelar!”
                Luqman tersenyum. Begitu istrinya, selalu berusaha untuk bersyukur. Apapun bagi dia selalu dianggap indah. Kepositifannya mewarnai kehidupannya. Dan memang benar, hampir Luqman tidak menemukan kesedihan dan kemurungan yang betah berlama-lama tinggal diwajah Maimunah, istrinya. Meskipun kesusahan datang bertubi-tubi.
                Didalm tulisan itu termuat lagi kata-kata, “sedih itu wajar, tapi saya enggan mau lama-lama! Nanti kesedihan dan kemurungan itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan.”
                Wah Luqman kagum pada istrinya ini.
                “Terlalu banyak hal-hal lain yang indah yang bisa menghibur hati yang sedang berduka.” Lanjut tulisan  itu. Wah tambah kagum lagi Luqman.
                “Istriku benar,” kata Luqman. Kitalah yang sering menjadikan hidup ini menjadi sempit dan sumpek, bahkan ketika ia belum lagi terwujud seperti itu kita sudah menganggapnya demikian. Hidup ini indah, itu kalau ia kita anggap indah. Palling tidak bukankah menganggap sesuatu indah adalah awal dari rasa kehidupan itu sendiri?
                Lihatlah hanya yang indah-indah,
            Niscaya hanya yang indah yang terlihat.

Tidak ada komentar: