

Cara Mudah Kaya,
Cara Mudah Sukses.
Mampu menerima keadaan apa adanya
adalah kekayaan yang sebenarnya.
“Di mana
rumahmu Anti...?”
Anti bingung. Tidak siap dia menjawab pertanyaan dari Reha kawannya.
Pertanyaan sederhana Reha menjadi tidak sederhana dimata Anti.
Dengan gagap Anti menjawab, “rumah saya ada di ujung jalan ini”.
Di tunukkanlah kepada Reha sebuah Rumah yang agak mewah, yang diakuinya sebagai sebagai miliknya.
Kebetulan rumah iti sedang digembok.
“Ini rumahmu Anti?” tanya Reha, sambil mengernyitkan keningnya. Anti
mengangguk. “saya mau menbuatkan kamu minuman Reha. Cuma kuncinya kebetulan
lagi dibawa pembantu saya ke pasar”.
Tanpa menunggu waktu jeda, Reha merogoh kantungnya dan berkata “kunci
ini yang kamu maksud? Kunci ini ada
pada saya sebab rumah ini memang rumah saya...!”
Keduanya terdiam sesaat.
“kamu tidak berubah Anti. Saya sangat kecewa. Terimalah keadaan suamimu
apa adanya. Supaya kamu bisa merasakan kebahagiaan.”
Rupanya rumah yang anti tunjukkan kepada Reha adalah rumah Reha
sendiri.
Kehidupan anti menjadi sempit. Ia tidak
bisa melapangkan dadanya karena ia memandang sempit kehidupannya.
Kebahagiaan selalu ia ukur dengan kacamata orang lain yang secara status ekonomi
dan sosialnya lebih dari dia. Keributan yang sering terjadi lebih sering
bermuara kepada ketidakpuasan akan
kehidupan yang ia jalani saat ini. Sungguhpun ia memiliki suami yang sayang
kepadanya, dan anak-anak yang manis dan penurut.
“Anti... lihatlah diri saya...?” pinta Reha sahabatnya. “bila kamu
lihat diri saya dari sisi rumah yang mewah ini, bila kamu lihat diri saya dari
sisi mobil yang engkau tumpangi, niscaya saya terlihat lebih enak daari kamu,
Anti. Tapi lihatlah lebih jauh lagi. Lima belas tahun saya berumah tangga,
tidak satupun anak yang saya miliki. Sedang kamu, dalam usia pernikahan dibawah
saya, sudah dua anak kamu punya. Lihatlah sisi ini, sisi diman kamulah yang
punya kelebihan dibanding saya.”
“Dulu juga saya sama.” Lanjut Reha. “bukanlah kita berasal dari tipe
keluarga yang sama? Sama-sama miskin. Suami saya juga dulu miskin...”
Selanjutnya Reha bercerita, satu hal yang membedakan
dia dengan Anti adalah dia amat jarang mengeluh. Ia menerima dulu kehidupan apa
adanya. Sehingga kehidupan tetap menyenangkan, dan nyaman. Suasana yang
kondusif ini menyebabkan Reha bisa
mensupport suaminya ‘tuk lebih bersemangat mencari rizki. Bahkan
belakangan, ketika ada beberapa kesempatan mengais rizki, Reha pun ikut turun ke
lapangan. Perjuangan sekian tahun ini kemudian berbuah, dengan buah yang
dilihat oleh Anti. Dan ini pula kebiasaan orang, selalu melihat hasil orang
lain, sedang perjuangan orang tersebut untuk mencapai hasil tidak pernah atau
jarang dilihat.
“Sudahlah Anti, jangan malu melihat bulan, jangan
malu menatap bintang, hanya karena kamu saat ini menjadi rumput...”
Dan
jangan engkau tujukan pada penglihatanmu kepada yang kami beri kesenangan
dengannya berbagai golongan dari mereka berupa perhiasan kehidupan dunia,
supaya kami menggguji mereka padanya.
Sedang rizeki Tuhanmu lebih baik dan kekal.”(Thaha: 131)
Selalu
mengeluh. Inilah wajah hamba, Rabb. Mengapa sih hamba tidak mampu melihat
indahnya mata, ketimbang harus meratapi satu dua jerawat?
Rabb,
sebab tidak ada penerimaan yang ikhlas akan jalannya hidup dan kehidupan
inilah mungkin yang menyebabkan hamba menjadi manusia-manusia yang berkhianat
kepada Engkau. Tuhan. Hamba seolah tidak yakin lagi bahwa Engkaulah sebaik-baik
pemberi Rizki. Lihatlah, hamba sering menempuh jalan yang bukan jalan-Mu. Hamba
juga sudah jadi pemarah, yang marah dan kecewa kepada-Mu, dengan cara meratapi
dan menyesali kehidupan hamba. Padahal tidak pantas hamba berlaku demikian di
tangah derasnya kebaikan yang Engkau berikan.
Rabb,
andaikan bukan Engkau Rabb alam ini, jauh-jauh hari Engkau sudah membungkam
hamba punya mulut, Engkau sudah tutup hamba punya hati. Tapi Engkaulah Tuhan
terbaik, dan satu-satunya!
Kata orang bijak, alam ini
mempunyai sistem yang bisa bekerja mewujudkan apa yang ada dalam pikiran dan
dihati kita.
Suatu
hari, Luqman menemukan catatan istrinya, “Makasih Ya Allah... yang mana engkau
sudah menjadikan hidup ini indah. Maka jadikanlah mata kami mampu memendang
keindahan-Mu adalah keindahan, tanpa kecacatan. Meski urusan suami saya belum
pada kelar!”
Luqman tersenyum. Begitu
istrinya, selalu berusaha untuk bersyukur. Apapun bagi dia selalu dianggap
indah. Kepositifannya mewarnai kehidupannya. Dan memang benar, hampir Luqman
tidak menemukan kesedihan dan kemurungan yang betah berlama-lama tinggal
diwajah Maimunah, istrinya. Meskipun kesusahan datang bertubi-tubi.
Didalm tulisan itu termuat lagi
kata-kata, “sedih itu wajar, tapi saya enggan mau lama-lama! Nanti kesedihan
dan kemurungan itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan.”
Wah Luqman kagum pada istrinya
ini.
“Terlalu banyak hal-hal lain
yang indah yang bisa menghibur hati yang sedang berduka.” Lanjut tulisan itu. Wah tambah kagum lagi Luqman.
“Istriku benar,” kata Luqman.
Kitalah yang sering menjadikan hidup ini menjadi sempit dan sumpek, bahkan
ketika ia belum lagi terwujud seperti itu kita sudah menganggapnya demikian.
Hidup ini indah, itu kalau ia kita anggap indah. Palling tidak bukankah
menganggap sesuatu indah adalah awal dari rasa kehidupan itu sendiri?
Lihatlah hanya yang indah-indah,
Niscaya
hanya yang indah yang terlihat.